Minggu, 13 Juni 2010

KARYA TULIS ILMIAH

HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI SEKSIO CAESAR DIRUANG KEBIDANAN RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PALEMBANG TAHUN 2010









Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Menyelesaikan Program Pendidikan
Diploma III Keperawatan


Oleh :
AGUSTUS
02 07 832


PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH PALEMBANG
TAHUN AKADEMIK 2009/2010


HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI SEKSIO CAESAR
DIRUANG KEBIDANAN RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH
PELEMBANG TAHUN 2010
Nama : Agustus
Nim : 02.07.832
Telah di pertahankan didepan dewan penguji karya tulis ilmiah pada
Tanggal 01 Februari 2010 dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima

SUSUNAN DEWAN PENGUJI
Pembimbing Penguji I Penguji II




Suzanna, S.Kep. Ns Adi Santosa, S.Kep. Ns H. Lailani Badrun SPd. M,Kes


Program Studi D III Keperawatan
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiayah Palembang
Ka. Prodi D III Keperawatan


Trilia WM, SMIP. SPd. M, Kes

Ketua STIKES
Muhammadiyah Palembang



dr. Santi Mismeriyanti
BIOGRAFI

Nama : Agustus
Jenis kelamin : Laki-laki
Tempat tanggal lahir : Betung, 16 Agustus 1989
Agama : Islam
Status dalam keluarga : Anak ke 11 Dari 12 saudara
Alamat : Jalan Palembang – Jambi Lk II Rt 031 Rw 08 No 24 Betung Kel. Rimbah Asam. Kec. Betung Kab. Banyuasin
Riwayat Pendidikan :
1. SD : SD 06 NEGERI I Betung Tahun 1995 - 2001
2. SMP : SMP PGRI I Betung Tahun 2001 - 2004
3. SMA : SMA PGRI I Betung Tahun 2004 – 2007
4. DIII Keperawatan (STIKes) Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Palembang.
• Tingkat I tahun : 2007 - 2008
• Tingkat II tahun : 2008 - 2009
• Tingkat III tahun : 2009 - 2010















MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto :
”Ingatlah MATI seakan-akan kau mati besok, dan ingatlah duniamu seakan-akan kau hidup 1000 tahun”

Kupersembahkan :
• Ayahanda (Lahmad. Alm) dan Ibuda yang ku cinta yang telah berjasa dan selalu mendo’akan keberhasilanku setiap saat.
• Buat saudaraku ayuk Tuti, ayuk Sumi K’ Sudarsono K’ Amran K’ Rudi, K’ Dedi Yuk Anita, dan adikku yang tercinta Kusmiati.
• Suzanna, Skep, Ns sebagai pembimbing ku yang telah membantu dalam penyusunan KTI ku
• Buat K’ Ali Hafis yang telah banyak memberi motivasi.
• Sahabat terbaik ku yang tidak bisa diucapkan satu persatu
• Teman2 PKLku Khusunya kelompok II
• Almamater yang tercinta.







KATA PENGANTAR


Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadiran allah SWT, atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah (KTI) ini dengan judul ”Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Diruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Pelembang Tahun 2010”
Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dikarnakan keterbatasan ilmu pengetahuan, pengalaman serta khilafan yang penulis miliki. Maka dari itu, dengan ikhlas penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat mendidik dan membangun dari semua pihak demi kesempurnaan karya tulis ilmiah dimasa yang akan datang.
Penyusunan karya tulis ilmiah ini tidak akan terlaksana dengan baik tampa bantuan, bimbingan serta saran dari berbagai pihak. Untuk itulah pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih yang tak terhingga kepada :
1. Ibu dr. Santi Mismeriyanti, Selaku Ketua (STIKes) Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Palembang.
2. Ibu Trilia WM, SMIP. SPd. M, Kes, Selaku Kepala Program Studi DIII Keperawatan STIKes Muhammadiyah Palembang.
3. Ibu Suzanna S,Kep. Ns, Selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan serta pengarahan selama penulisan karya tulis ilmiah ini.
4. Bapak Adi Santosa, S,Kep Ns, Selaku penguji I yang memberikan kritik dan saran dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini.
5. Bapak H. Lailani Badrun, SPd. M, Kes, Selaku penguji II yang memberikan kritik dan saran dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini.
6. Bapak dr. Yudi Fadila, selaku Direktur Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang yang telah memberi kemudaan dalam pengurusan administrasi penelitian.
7. Ibu Eva Yulianti, AMKeb, SKM selaku kepala ruangan Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang yang memberikan kemudaan dalam pengumpulan data.
8. Para dosen dan staf Program Studi DIII Keperawatan STIKes Muhammadiyah Palembang.
9. Dan semua pihak yang telah memberikan bantuan, Sehingga karya tulis ilmiah ini dapat penulis selesaikan.
Semoga Allah SWT membalas selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya atas bantuan yang telah diberikan kepada penulis dalam penulisan karya tulis ilmiah ini, Akhirnya semoga karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pembangunan ilmu pendidikan dan ilmu keperawatan serta bagi kita semua, amin.

Palembang, Maret 2010

Penulis,

ABSTRAK
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH PALEMBANG
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
KARYA TULIS ILMIAH, JUNI 2010

AGUSTUS

Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010

( xiii + 68 Halaman + 7 Tabel + 6 Lampiran)


Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang direncanakan secara sadar, tujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional yang mengarah pada tujuan yaitu penyembuhan pasien.
Penelitian ini bertujuan mengetahui Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Tingkat Kecemasan pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010. Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah semua pasien pre operasi seksio caesar dan perawat di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dari tanggal 22 Februari – 6 Maret tahun 2010 dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 14 respondenn yang dipilih secara non random dengan teknik accidental sampling. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan angket yang berupa kuesioner dan observasi yang berupa cheklis.
Hasil analisis univariat didapatkan komunikasi terapeutik perawat dengan kategori baik sebesar 36% dan kategori cukup sebesar 64%, sedangkan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan tingkat kecemasan sedang sebesar 57% dan dengan tingkat kecemasan berat sebesar 43%. Dari hasil uji chi-square dengan pValue <0,05 menunjukan bahwa ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa komunikasi terapeutik perawat mempengaruhi tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio caesar. Saran kepada petugas kesehatan diharapkan lebih meningkatkan komunikasi terapeutik yang baik kepada pasien pre operasi seksio caesar ataupun pasien yang lainnya.


Daftar Bacaan : 15 (1996-2009)





ABSTRACT
HEALTH SCIENCE HIGH SCHOOL MUHAMMADIYAH PALEMBANG
STUDY PROGRAMMES DIPLOMA OF NURSING
WRITING SCIENTIFIC, JUNE 2010


AUGUST

Relationps Communication Anxiety Therapeutic Nurse Level In Patients With Pre Caesar In Operating Room Midwifery Section Hospital Muhammadiyah Palembang 2010
( xiii + 68 Pages + 7 Table + 6 Annex )

Therapeutic communication is consciously planned communication, goals and activities focused on healing the patient. Basically, therapeutic communication is a professional communications that lead to the goal of healing the patient.
This study aimed to Therapeutic Communication Nurse Relations Anxiety Level in Patients with Pre Operation Caesar section Obstetric Hospital in Room 2010 of Muhammadiyah Palembang. This research is an analytical survey with cross sectional approach. The study population was all patients pre and caesar section operation room nurse at Muhammadiyah Palembang Obstetric Hospital of the date of 22 February to 6 March 2010 with the number of samples is 14 respondenn selected non random accidental sampling technique. This research was conducted using a questionnaire in the form of questionnaires and observation in the form cheklis.
Results Univariate analysis showed a nurse therapeutic communication with both categories by 36% and 64% adequate category, while the level of anxiety in patients with pre surgery anxiety level was at 57% and with severe anxiety level of 43%. From the results of chi-square test with p value <0.05 indicates that there is a relationship between therapeutic communication nurse with the anxiety level in patients pre Caesar section operation. From these results it is concluded that therapeutic communication nurse patient anxiety level welsh pre Caesar section operation. Advice to health workers is expected to further improve therapeutic communication both to the patient pre Caesar section operation or other patients.

Reading List : 15 (1996 - 2009)






DAFTAR ISI

Hal
HALAMAN JUDUL i
HALAMAN PERSETUJUAN ii
BIOGRAFI iii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN iv
KATA PENGANTAR v
ABSTRAK vi
ABSTRACT vii
DAFTAR ISI ix
DAFTAR TABEL xii
DAFTAR LAMPIRAN xiii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 6
1.3 Pertanyaan Penelitian 6
1.4 Tujuan 7
1.5 Ruang Lingkup Penelitian 7
1.6 Manfaat Penelitian 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Komunikasi Terapeutik 9
2.1.1 Pengertian Komunikasi Terapeutik 9
2.1.2 Tujuan Komunikasi Terapeutik 10
2.1.3 Manfaat Komunikasi Terapeutik 10
2.1.4 Syarat-Syarat Komunikasi Terapeurik 10
2.1.5 Prinsip-Prinsip Komunikasi Terapeutik 11
2.1.6 Sikap Komunikasi Terapeutik 13
2.1.7 Tehnik-Tehnik Komunikasi Terapeutik 14
2.1.8 Fase – Fase Dalam Komunikasi Teraupetik 20
2.2 Kecemasan (Ansietas) 22
2.2.1 Definisi Kecemasan (Ansietas) 22
2.2.2 Klasifikasi Kecemasan 24
2.2.3 Tingkat Kecemasan 25
2.2.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecemasan 26
2.2.5 Bentuk-Bentuk Kecemasan 27
2.2.6 Ciri-Ciri Kecemasan 27
2.2.7 Tanda-Tanda Kecemasan 28
2.2.8 Penyebab Kecemasan (Ansietas) 28
2.2.9 Pengukuran Skala Kecemasan 29
2.3 Seksio Sesarea 34
2.3.1 Pengertian Seksio Sesarea 34
2.3.2 Faktor-faktor yang Menyebabkan Seksio Sesarea 34
2.3.3 Klasifikasi Seksio Sesarea 35
2.4 Penelitian Terkait 39

BAB III KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL DAN HIPOTESIS
3.1 Kerangka Konsep 41
3.2 Variabel 42
3.3 Definisi Operasional 43
3.4 Hipotesis 44

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Desain Penelitian 45
4.2 Populasi dan Sampel Penelitian 45
4.2.1 Populasi Penelitian 45
4.2.2 Sampel Penelitian 45
4.3 Lokasi dan Waktu Penelitian 46
4.4 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 46
4.5 Tehnik Pengumpulan Data 46
4.6 Instrumen Pengumpulan Data 46
4.7 Pengolahan Data 47
4.8 Analisa Data 48
4.9 Etika Penelitian 48

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
5.1 Hasil 51
5.2 Variabel Peneliti 54
5.3 Pembahasan 59
5.3.1 Persalinan 59
5.3.2 Komunikasi Terapeutik Perawat 61
5.3.3 Tingkat Kecemasan Pasien Seksio Caesar 63
5.3.4 Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat
Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar ` 65

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan 67
6.2 Saran 67

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN




DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 : Bagan Kerangka Konsep
Tabel 4.1 : Perencanaan Waktu Penelitian
Tabel 5.1 : Jumlah Tempat Tidur Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang
Tabel 5.2 : Persalinan Seksio Caesar Dan Spontan
Tabel 5.3 : Komunikasi Terapeutik Perawat
Tabel 5.4 : Tingakat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar
Tabel 5.5 : Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi



















DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Surat Penelitian
Lampiran 2 : Lembar Persetujuan Menjadi Responden
Lampiran 3 : Quisioner Penelitian
Lampiran 4 : Cheklist Penelitian
Lampiran 5 : Output SPSS
Lampiran 6 : Lembar Konsultasi





















BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Komunikasi merupakan bagian integral dari kehidupan manusia tidak terkecuali seorang perawat, yang dalam kegiatan sehari-harinya selalu berhubungan dengan orang lain. Komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien disebut dengan komunikasi terapeutik. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang mendorong proses penyembuhan klien (Depkes RI, 1997). Komunikasi terapeutik juga termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan klien. Persoalan mendasar dan komunikasi ini adalah adanya saling membutukan antara perawat dan pasien, sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien, perawat membantu dan pasien menerima bantuan (Indrawati, 2003).
Komunikasi terapeutik juga merupakan kemampuan atau keterampilan perawat untuk membantu pasien beradaptasi terhadap stres, mengatasi gangguan psikologis, dan belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain. Dan juga Komunikasi terapeutik bukan pekerjaan yang bisa diabaikan, namun harus direncanakan, disengaja, dan merupakan tindakan profesional. Akan tetapi, jangan sampai karena terlalu asyik bekerja, kemudian melupakan pasien sebagai manusia dengan beragam latar belakang dan masalahnya (Arwani, 2003).
Pandangan setiap orang dalam menghadapi operasi berbeda, sehingga respon pun berbeda. Setiap menghadapi operasi selalu menimbulkan ketakutan dan kecemasan pada pasien, kecemasan sering muncul pada usia sebelum 30 tahun (Stuard and Sundeen, 1998). Seseorang yang sangat cemas sehingga tidak bisa berbicara dan mencoba menyesuaikan diri dengan kecemasan sebelum operasi, seringkali menjadi hambatan pada paska operasi, pasien menjadi cepat marah, bingung, lebih mudah tersinggung akibat reaksi psikis, dibandingkan dengan orang yang cemas ringan (Barbara C. Long, 1996).
Hal ini juga terkait dengan komunikasi perawat yang sangat dibutuhkan pada pasien operasi seksio caesar karena pada kondisi ini pasien cemas, untuk mengurangi kecemasan itu maka perawat harus memberikan komunikasi terapeutik kepada pasien pre operasi seksio caesar.
Proses perawatan di rumah sakit seringkali mengabaikan aspek-aspek psikologis sehingga menimbulkan berbagai permasalahan pisikologis bagi pasien yang salah satunya adalah kecemasan. Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum dialami oleh pasien yang dirawat di rumah sakit, kecemasan yang sering terjadi adalah apabila pasien yang dirawat di rumah sakit harus mengalami proses operasi. Pembahasan tentang reaksi-reaksi pasien terhadap pembedahan sebagian besar berfokus pada persiapan pembedahan dan proses penyembuhan. Kecemasan merupakan sesuatu hal yang tidak jelas, adanya perasaan gelisah atau tidak tenang dengan sumber yang tidak spesifik dan tidak diketahui oleh seseorang. Untuk dapat menurunkan kecemasan pada pasien pre operasi salah satunya diperlukan komunikasi yang efektif terutama komunikasi terapeutik. Hal ini perlu mendapat perhatian serius dari perawat karena perawat merupakan petugas kesehatan yang terdekat dan terlama dengan pasien. (Dewi wijayanti, 2009)
Operasi adalah salah satu tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan. Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak segera diatasi maka dapat mengganggu proses penyembuhan, untuk itu pasien yang akan menjalani operasi harus diberi komunikasi terapeutik untuk menurunkan atau mengurangi gejala kecemasan serta dapat meningkatkan pengetahuan kesehatan pada pasien. Komunikasi terapeutik pada hakikatnya adalah suatu kegiatan atau usaha untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu. Operasi merupakan tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan, sampai saat ini sebagian besar orang menganggap bahwa semua operasi yang dilakukan adalah operasi besar. Tindakan operasi merupakan ancaman potensial aktual terhadap integritas seseorang yang dapat membangkitkan reaksi stress fisiologis maupun psikologis (Barbara C.Long, 1989)
Menurut World Heath Organization (WHO) angka persalinan dengan seksio caesarea yang wajar adalah 5-10 % dari seluruh kelahiran. Ternyata diseluruh dunia angka operasi seksio caesarea meningkat dengan pesat, sedangkan angka di Indonesia belum diketahui secara pasti. (http://www.drdidispog.com )
Di Amerika Serikat, 1 diantara setiap 10 wanita yang melahirkan setiap tahunnya pernah menjalani seksio caesar. Lebih dari 825.000 wanita melahirkan dengan seksio caesar pada tahun 1998, dan 37% di antaranya pernah menjalani seksio caesar sebelumnya. Sebagian besar peningkatan ini berlangsung pada tahun 1970-an sampai awal 1980-an dan terjadi di seluruh negara barat. Penyebab peningkatan ini adalah nulipara, wanita yang hamil berusia lebih tua, pemantauan janin secara elektronik, presentasi bokong, dan tuntutan malpraktik (Cunningham, 2005).
Data dari RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta tahun 2000, menyebutkan dari jumlah persalinan sebanyak 404 per bulan, 30% merupakan persalinan caesar, 52,5% adalah persalinan spontan, sedangkan sisanya dengan bantuan alat seperti vakum atau forsep (Kasdu, 2003).
Sedangkan data yang diperoleh dari Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang pada tahun 2009 menyebutkan dari jumlah persalinan sebanyak 2331 per tahun, 48% merupakan persalinan caesar, 40% persalinan normal, sedangkan sisanya dengan bantuan alat seperti vakum dan forsep.
Kelahiran manusia dimuka bumi ini sudah di jelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Hajj Ayat : 5 yang berarti ”Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya......(Al-Quran Terjemah : Tohaputra Ahmad, 1998).
Beberapa penelitian telah membuktikan adanya kemungkinan untuk menurunkan angka seksio caesar di Institusi kesehatan mengurangi peningkatan mordibitas (kelahiran) atau mortalitas (kematian) perinatal. Program-program yang ditujukan untuk mengurangi seksio caesar yang tidak diperlukan, umumnya difokuskan pada upaya pendidikan dan pengawasan, mendorong percobaan persalinan pada wanita dengan riwayat seksio caesar transversal, membatasi seksio caesar atas indikasi distosia persalinan pada wanita yang memenuhi kriteria yang ditentukan dengan ketat (Cunningham, 2005)
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas bahwa komunikasi terapeutik sangat dibutuhkan bagi pasien yang akan menjalani operasi seksio caesar. Karena komunikasi terapeutik salah satu tindakan perawat yang dapat mengurangi kecemasan. Diamana pada tahap ini tingkat kecemasan pasien yang akan di operasi masih sangat tinggi. maka penulis tertarik untuk meneliti ”Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar”

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan pada data diatas maka belum diketahui Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010.

1.3 Pertanyaan Penelitian
Bagaimana Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang?

1.4 Tujuan Penelitian
1.4.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.

1.4.2 Tujuan Khusus
a) Diketahuinya gambaran komunikasi terapeutik perawat pada pasien pre operasi seksio caesar.
b) Diketahuinya gambaran tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar
c) Diketahuinya gambaran hubungan antara komunikasi terapeutik perawat/bidan dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.

1.5 Ruang Lingkup Masalah
1.5.1 Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.
1.5.2 Waktu
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 22 Febuari sampai dengan tanggal 6 Maret tahun 2010.

1.6 Manfaat Penelitian
1.6.1 Manfaat Bagi Rumah Sakit
Diharapkan dapat dijadikan masukan dan motivasi bagi rumah sakit untuk lebih menerapkan komuniksi terapeutik perawat dalam mengurangi tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.

1.6.2 Manfaat Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan dapat menambah informasi dan referensi yang berguna bagi mahasiswa sekolah tinggi ilmu kesehatan Muhammadiyah Palembang.


1.6.3 Manfaat Bagi Pasien
Diharapkan dapat memberikan rasa nyaman dan aman pada semua pasien yang akan menjalankan operasi seksio caesar sehingga pasien yang menjalankan operasi tidak cemas dan operasi bisa berjalan dengan lancar.

1.6.4 Manfaat Bagi Peneliti
Diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan bagi peneliti mengenai hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.













BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Komunikasi Terapeutik
2.1.1 Pengertian Komunikasi Terapeutik
Terapeutik merupakan kata sifat yang dihubungkan dengan seni dari penyembuhan (As Hornby Dalam Intan, 2005). Maka disini dapat di artikan bahwa terapeutik adalah segala sesuatu yang memfasilitasi proses penyembuhan. Sehingga komunikasi terapeutik itu sendiri adalah komunikasi yang direncanakan dan dilakukan untuk membantu penyembuhan dan pemulihan pasien. Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional bagi perawat. ( Mukhripah Damaiyanti, 2008 ).
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, tujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional yang mengarah pada tujuan yaitu penyembuhan pasien. Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan pasien. Persoalan mendasar dan komunikasi ini adalah adanya saling membutuhan antara perawat dan pasien, sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien, perawat membantu dan pasien menerima bantuan. ( Indrawati, 2003 ).

2.1.2 Tujuan Komunikasi Terapeutik
Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan yang efektif untuk pasien, membantu mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan diri sendiri. Kualitas asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan perawat-klien, Bila perawat tidak memperhatikan hal ini, hubungan perawat-klien tersebut bukanlah hubungan yang memberikan dampak terapeutik yang mempercepat kesembuhan klien, tetapi hubungan sosial biasa. (Indrawati, 2003 ).

2.1.3 Manfaat Komunikasi Terapeutik
Manfaat komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien. Mengidentifikasi, mengungkap perasaan dan mengkaji masalah dan evaluasi tindakan yang dilakukan oleh perawat. Christina, dkk, (Mukhripah Damaiyanti, 2008 ).

2.1.4 Syarat-Syarat Komunikasi Terapeutik
Stuart dan Sundeen (dalam Christina, dkk, 2003) mengatakan ada dua persyaratan untuk komunikasi terapeutik efektif :
a. Semua komunikasi terapeutik harus ditujukan untuk menjaga harga diri pemberi maupun penerima pesan.
b. Komunikasi yang menciptakan saling pengertian yang harus dilakukan terlebih dahulu sebelum memberikan sarana, informasi atau masukan. Persyaratan - Persyaratan untuk komunikasi terapeutik ini dibutuhkan untuk membentuk hubungan antara perawat dengan pasien sehingga klien memungkinkan untuk mengimplementasikan proses keperawatan. Komunikasi terapeutik ini akan efektif bila melalui penggunaan dan latihan yang sering.

2.1.5 Prinsip-Prinsip Komunikasi Terapeutik
Prinsip-prinsip komunikasi terapeutik menurut Carl Rogers (dalam Perwanto, 1994) adalah :
a. Perawat harus mengenal dirinya sendiri yang berarti menghayati, memahami dirinya sendiri serta nilai yang dianut.
b. Komunikasi harus di tandai dengan sikap saling menerima, saling pecaya dan saling menghargai.
c. Perawat harus menyadari pentingnya kebutuan pasien baik fisik maupun mental.
d. Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien bebas berkembang tanpa rasa takut.
e. Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien memiliki motivasi untuk mengubah dirinya baik sikap, tingkah lakunya sehingga tumbuh mangkin matang dan dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.
f. Perawat harus mampu menguasai perasaan sendiri secara bertahap untuk mengetahui dan mengatasi perasaan gembira, sedih marah, keberhasilan maupun frustasi
g. Mampu menentukan batas waktu yang sesuai dan dapat mempertahankan konsistensinya.
h. Memahami betul arti empati sebagai tindakan terapeutik dan sebaliknya sempati bukan tindakan terapeutik.
i. Kejujuran dan komunikasi terbuka merupakan dasar dari hubungan terapeutik
j. Mampu berperan sebagai role model agar dapat menunjukan dan menyakinkan orang lain tentang kesehatan, oleh karena itu perawat perlu mempertahan suatu keadaan sehat fisik mental, spiritual dan gaya hidup.
k. Disarankan untuk mengekspresikan perasaan bila dianggap menganggu.
l. Altruisme untuk mendapatkan kepuasan dengan menolong orang lain secara manusiawi.
m. Berpegang pada etika dengan cara berusaha sedapat mungkin mengambil keputusan berdasarkan prinsip kesejahteraan manusia.
n. Bertanggung jawab dalam dua demensi yaitu tanggung jawab terhadap diri sendiri atas tindakan yang dilakukan dan bertanggung jawab dengan orang lain.
2.1.6 Sikap Komunikasi Terapeutik
Egan (dalam Keliat, 1992), mengindentifikasi lima sikap atau cara untuk menghadirkan diri secara fisik yang dapat memfasilitasi komunikasi terapeutik, yaitu :
a. Berhadapan
Arti dari posisi ini adalah saya siap untuk anda
b. Mempertahankan kontak mata
Kontak mata pada level yang sama berarti menghargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi.
c. Membungkuk kearah klien
Posisi ini menunjukan keinginan untuk menyatakan atau mendengarkan sesuatu.
d. Mempertahankan sikap terbuka
Tidak melipat kaki atau tangan menunjukan keterbukaan untuk berkomunikasi dan siap membantu.
e. Tetap rileks
Tetap dapat mengendalikan keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam memberikan respons kepada pasien, meskipun dalam situasi yang kurang menyenangkan.



2.1.7 Tehnik-Tehnik Komunikasi Terapeutik
2.1.7.1 Bertanya
Bertanya (Questioning) merupakan tehnik yang dapat mendorong klien untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya. Tehnik berikut sering digunakan pada tahap orientasi.

a. Pertanyaan Fasilitatif Dan Nonfasilitatif
Pertanyaan fasilitatif (Facilitative Question) terjadi jika pada saat bertanya perawat sensitif terhadap pikiran dan perasaan serta secara langsung berhubungan dengan masalah klien, sedangkan pertanyaan nonfasilitatif (Nonfacilitative Question) adalah pertanyaan yang tidak efektif karena memberikan pertanyaan yang tidak fokus pada masalah atau pembicaraan, bersifat mengancam, dan tampak kurang pengertian terhadap klien (Gerald. D, dalam Suryani, 2005).

b. Pertanyaan Terbuka Dan Tertutup
Pertanyaan terbuka (Open Question) digunakan apabila perawat membutuhkan jawaban yang banyak dari klien. Dengan pertanyaan terbuka, perawat mampu mendorong klien mengekspresikan dirinya (Antai-Otong dalam Suryani, 2005).
Pertanyaan tertutup (Closed Question) digunakan ketika perawat membutuhkan jawaban yang singkat.

2.1.7.2 Mendengarkan
Mendengarkan (Listening) merupakan dasar utama dalam komunikasi terapeutik (Keliat, Budi Anna, 1992). Mendengarkan adalah proses aktif (Gerald, D dalam Suryani, 2005) dan penerimaan informasi serta penelaahan reaksi seseorang terhadap pesan yang diterima (Hubson, S dalam Suryani, 2005).
Selama mendengarkan, perawat harus mengikuti apa yang dibacakan klien dengan penuh perhatian. Perawat memberikan tanggapan dengan tepat dan tidak memotong pembicaraan klien. Tunjukkan perhatian bahwa perawat mempunyai waktu untuk mendengarkan ( Purwanto Heri, 1994 ).

2.1.7.3 Mengulang
Mengulang (Restarting) yaitu mengulang pokok pikiran yang diungkapkan klien. Gunanya untuk menguatkan ungkapan klien dan memberi indikasi perawat mengikuti pembicaraan klien ( Keliat, Budi Anna, 1992 ). Restarting (pengulangan) merupakan suatu strategi yang mendukung listening ( Suryani, 2005).

2.1.7.4 Klarifikasi
Klarifikasi (Clarification) adalah menjelaskan kembali ide atau pikiran klien yang tidak jelas atau meminta klien untuk menjelaskan arti dari ungkapannya ( Gerald, D dalam Suryani, 2005 ).
Pada saat klarifikasi, perawat tidak boleh menginterpretasikan apa yang dikatakan klien, juga tidak boleh menambahkan informasi (Gerald, D dalam Suryani, 2005). Apabila perawat menginterpretasikan pembicaraan klien, maka penilaiannya akan berdasarkan pandangan dan perasaannya. Fokus utama klarifikasi adalah pada perasaan, karena pengertian terhadap perasaan klien sangat penting dalam memahami klien.

2.1.7.5 Refleksi
Refleksi (Reflection) adalah mengarahkan kembali ide, perasaan, pertanyaan, dan isi pembicaraan kepada klien. Hal ini digunakan untuk memvalidasi pengertian perawat tentang apa yang diucapkan klien dan menekankan empati, minat, dan penghargaan terhadap klien (Antai-Otong dalam Suryani, 2005).

2.1.7.6 Memfokuskan
Memfokuskan (Focusing) bertujuan memberi kesempatan kepada klien untuk membahas masalah inti dan mengarahkan komunikasi klien pada pencapaian tujuan (Stuart, G.W dalam Suryani, 2005). Dengan demikian akan terhindar dari pembicaraan tanpa arah dan penggantian topik pembicaraan. Hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan metode ini adalah usahakan untuk tidak memutus pembicaraan ketika klien menyampaikan masalah penting (Suryani, 2005).

2.1.7.7 Diam
Tehnik diam (Silence) digunakan untuk memberikan kesempatan pada klien sebelum menjawab pertanyaan perawat. Diam akan memberikan kesempatan kepada perawat dan klien untuk mengorganisasi pikiran masing-masing (Stuart & Sundeen dalam Suryani, 2005). Tehnik ini memberikan waktu pada klien untuk berfikir dan menghayati, memperlambat tempo interaksi, sambil perawat menyampaikan dukungan, pengertian, dan penerimaannya. Diam juga memungkinkan klien untuk berkomunikasi dengan dirinya sendiri dan berguna pada saat klien harus mengambil keputusan (Suryani, 2005).

2.1.7.8 Memberi Informasi
Memberikan tambahan informasi (Informing) merupakan tindakan penyuluhan kesehatan klien. Tehnik ini sangat membantu dalam mengajarkan kesehatan atau pendidikan pada klien tentang aspek-aspek yang relevan dengan perawatan diri dan penyembuhan klien. Informasi yang diberikan pada klien harus dapat memberikan pengertian dan pemahaman tentang masalah yang dihadapi klien serta membantu dalam memberikan alternatif pemecahan masalah (Suryani, 2005).

2.1.7.9 Menyimpulkan
Menyimpulkan (Summerizing) adalah tehnik komunikasi yang membantu klien mengeksplorasi poin penting dari interaksi perawat-klien. Tehnik ini membantu perawat dan klien untuk memiliki pikiran dan ide yang sama saat mengakhiri pertemuan. Poin utama dari menyimpulkan yaitu peninjauan kembali komunikasi yang telah dilakukan (Murray, B & Judith dalam Suryani, 2005).

2.1.7.10 Mengubah Cara Pandang
Tehnik mengubah cara pandang (refarming) ini digunakan untuk memberikan cara pandang lain sehingga klien tidak melihat sesuatu atau masalah dari aspek negatifnya saja (Gerald, D dalam Suryani, 2005). Tehnik ini sangat bermanfaat terutama ketika klien berfikiran negatif terhadap sesuatu, atau memandang sesuatu dari sisi negatifnya. Seorang perawat kadang memberikan tanggapan yang kurang tepat ketika klien mengungkapkan masalah, misalnya menyatakan : “sebenarnya apa yang anda pikirkan tidak seburuk itu kejadiannya”. Reframing akan membuat klien mampu melihat apa yang dialaminya dari sisi positif (Gerald, D dalam Suryani, 2005) sehingga memungkinkan klien untuk membuat perencanaan yang lebih baik dalam mengatasi masalah yang dihadapinya.

2.1.7.11 Eksplorasi
Eksplorasi bertujuan untuk mencari atau menggali lebih jauh atau lebih dalam masalah yang dialami klien (Antai-Otong dalam Suryani, 2005) supaya masalah tersebut bisa diatasi. Tehnik ini bermanfaat pada tahap kerja untuk mendapatkan gambaran yang detail tentang masalah yang dialami klien.
2.1.7.12 Membagi Persepsi
Stuart G.W (1998) dalam Suryani (2005) menyatakan, membagi persepsi (Sharing Peception) adalah meminta pendapat klien tentang hal yang perawat rasakan atau pikirkan. Tehnik ini digunakan ketika perawat merasakan atau melihat ada perbedaan antara respos verbal dan respons nonverbal klien.
2.1.7.13 Mengidentifikasi Tema
Perawat harus tanggap terhadap cerita yang disampaikan klien dan harus mampu manangkap tema dari seluruh pembicaraan tersebut. Gunanya adalah untuk meningkatkan pengertian dan menggali masalah penting (Stuart & Sadeen dalam Suryani, 2005). Tehnik ini sangat bermanfaat pada tahap awal kerja untuk memfokuskan pembicaraan pada awal masalah yang benar-benar dirasakan klien.

2.1.7.14 Humor
Humor bisa mempunyai beberapa fungsi dalam hubungan terapeutik. Florence Nightingale dalam Anonymous (1999) dalam Suryani (2005) pernah mengatakan suatu pengalaman pahit sangat baik ditangani dengan humor. Humor dapat meningkatkan kesadaran mental dan kreativitas, serta menurunkan tekanan darah dan nadi.


2.1.7.15 Memberikan Pujian
Memberikan Pujian (Reinforcement) merupakan keuntungan psikologis yang didapatkan klien ketika berinteraksi dengan perawat. Reinforcement berguna untuk meningkatkan harga diri dan menguatkan perilaku klien (Gerald, D dalam Suryani, 2005). Reniforcement bisa diungkapkan dengan kata-kata ataupun melalui isyarat nonverbal.

2.1.8 Fase – Fase Dalam Komunikasi Terapeutik
2.1.8.1 Tahap Persiapan (Preinteraksi)
Tahap Persiapan atau prainteraksi sangat penting dilakukan sebelum berinteraksi dengan klien (Christina, dkk, 2002). Pada tahap ini perawat menggali perasaan dan mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya. Pada tahap ini perawat juga mencari informasi tentang klien. Kemudian perawat merancang strategi untuk pertemuan pertama dengan klien. Tahap ini harus dilakukan oleh seorang perawat untuk memahami dirinya, mengatasi kecemasannya, dan meyakinkan dirinya bahwa dia siap untuk berinteraksi dengan klien (Suryani, 2005).

2.1.8.2 Tahap Perkenalan
Perkenalan merupakan kegiatan yang dilakukan saat pertama kali bertemu atau kontak dengan klien (Christina, dkk, 2002). Pada saat berkenalan, perawat harus memperkenalkan dirinya terlebih dahulu kepada klien (Brammer dalam Suryani, 2005). Dengan memperkenalkan dirinya berarti perawat telah bersikap terbuka pada klien dan ini diharapkan akan mendorong klien untuk membuka dirinya (Suryani, 2005). Tujuan tahap ini adalah untuk memvalidasi keakuratan data dan rencana yang telah dibuat dengan keadaan klien saat ini, serta mengevaluasi hasil tindakan yang lalu (Stuart, G.W dalam Suryani, 2005).

2.1.8.3 Tahap Kerja
Tahap kerja ini merupakan tahap inti dari keseluruhan proses komunikasi terapeutik (Stuart, G.W dalam Suryani, 2005). Pada tahap ini perawat dan klien bekerja bersama-sama untuk mengatasi masalah yang dihadapi klien. Pada tahap kerja ini dituntut kemampuan perawat dalam mendorong klien mengungkap perasaan dan pikirannya. Perawat juga dituntut untuk mempunyai kepekaan dan tingkat analisis yang tinggi terhadap adanya perubahan dalam respons verbal maupun nonverbal klien.
Pada tahap ini perawat perlu melakukan active listening karena tugas perawat pada tahap kerja ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah klien. Melalui active listening, perawat membantu klien untuk mendefinisikan masalah yang dihadapi, bagaimana cara mengatasi masalahnya, dan mengevaluasi cara atau alternatif pemecahan masalah yang telah dipilih.
Perawat juga diharapkan mampu menyimpulkan percakapannya dengan klien. Tehnik menyimpulkan ini merupakan usaha untuk memadukan dan menegaskan hal-hal penting dalam percakapan, dan membantu perawat-klien memiliki pikiran dan ide yang sama (Murray, B & Judth dalam Suryani, 2005).

2.1.8.4 Tahap Terminasi
Terminasi merupakan akhir dari pertemuan perawat dengan klien (Christina, dkk, 2002). Tahap ini dibagi dua yaitu terminasi sementara dan terminasi akhir (Stuart, G.W dalam Suryani, 2005).
a. Terminasi sementara adalah akhir dari tiap pertemuan perawat-klien, setelah terminasi sementara, perawat akan bertemu kembali dengan klien pada waktu yang telah ditentukan.
b. Terminasi akhir terjadi jika perawat telah menyelesaikan proses keperawatan secara keseluruhan.

2.2 Kecemasan (Ansietas)
2.2.1 Definisi Kecemasan (Ansietas)
Ansietas atau kecemasan adalah :
a. Respon emosional terhadap penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya (stuart dan sundeen, 1998)
b. Keadaan dimana individu atau kelompok mengalami perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktivitas sistem syaraf autonom dalam berespon terhadap ancaman yang tidak jelas, ninspesifik (Carpenito, 2000)
c. Suatu keadaan ketidakseimbangan atau tegangan yang cepat mengusahakan coping (Hudak dan Gallo, 1997)
d. Suatu perasaan takut yang tidak menyenangkan dan tidak dapat dibenarkan yang sering disertai dengan gejala fisiologi (Tom, 2003)
e. Suatu sinyal yang menyadarkan, yang memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman (Kaplan dan Sadock, 1997)
Ansietas adalah perasaan yang dialami terlalu mengkhwatirkan kemungkinan peristiwa yang menakutkan yang terjadi dimasa depan yang tidak bisa dikendalikan dan jika itu terjadi akan menilai mengerikan atau dapat diungkapkan sebagai orang yang benar-benar tidak mampu menata pikiran. (www.silvalintar.2007.com )
Menurut Post (1978), kecemasan adalah kondisi emosional yang tidak menyenangkan, yang ditandai oleh perasaan-perasaan subjektif seperti ketegangan, ketakutan, kekhawatiran dan juga ditandai dengan aktifnya sistem syaraf pusat. Freud (dalam Arndt, 1974) menggambarkan dan mendefinisikan kecemasan sebagai suatu perasaan yang tidak menyenangkan, yang diikuti oleh reaksi fisiologis tertentu seperti perubahan detak jantung dan pernafasan. Menurut Freud, kecemasan melibatkan persepsi tentang perasaan yang tidak menyenangkan dan reaksi fisiologis, dengan kata lain kecemasan adalah reaksi atas situasi yang dianggap berbahaya.





2.2.2 Klasifikasi Kecemasan
Ada tiga macam kecemasan yaitu :
a. Kecemasan realistik adalah ketakutan terhadap bahaya dari dunia eksternal, dan taraf kecemasannya sesuai dengan derajat ancaman yang ada.
b. Kecemasan neorotik adalah ketakutan rehadap tidak terkendalinya naluri-naluri yang menyebabkan seseorang melakukan sesuatu tindakan yang mendatangkan hukuman bagi dirinya.
c. Kecemasan moral adalah ketakutan terhadap hati nuraninya sendiri. Orang yang hati nuraninya berkembang baik cendrung merasa berdosa apabila dia melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kode moral yang dimilikinya. (Corey Gerald, 2007)
Adapun pendapat lain yang menyatakan bahwa kecemasan ada dua yaitu :
a. Kecemasan Akut
Keadaan dimana perasaan sakit berat, dan takut bisa berjalan beberapa menit atau beberapa jam. Mungkin penderita sadar, sebelumnya punya pengalaman emosi (biasa terdapat pada Ibu yang akan bersalin). Gejala-gejalanya : Perasaan takut, Mudah berdebar-debar, Hyperventilas,Perasaan payah (lemah, lesu), Tachy cardi, Hyperhyrosis, Pernafasan kasa, Hypertensi sifatnya sistolik, Diarrhee, Polyuri (sering kencing), Perasaan tersumbat di tenggorokan.

b. Kecemasan Kronis
Kecemasan timbul untuk sebab yang tidak diketahui (tidak di sadari). Mungkin karena penderita tidak tahu sebab maka justru kecemasannya akanbertambah, sehingga fisik makin bertambah pula. Gejala-gejalanya: Sakit kepala, Keluhan-keluhan gastro intestinal, Kelelahan, Pada pemeriksaan fisik , lengkap tidak ditemukan kelainan apa-apa.

2.2.3 Tingkat Kecemasan
Menurut Jersild (1963) menyatakan bahwa ada dua tingkatan kecemasan. Pertama, kecemasan normal, yaitu pada saat individu masih menyadari konflik-konflik dalam diri yang menyebabkan cemas. Kedua, kecemasan neurotik, ketika individu tidak menyadari adanya konflik dan tidak mengetahui penyebab cemas, kecemasan kemudian dapat menjadi bentuk pertahanan diri.
Menurut Struat & Sunden (1998) mengidentifikasikan tingkat kecemasan dapat dibagi menjadi :
a. Kecemasan Ringan
Pada tingkat kecemasan yang terjadi pada kehidupan sehari-hari dan kondisi membantu individu menjadi waspada dan bagaimana mencegah berbagai kemungkinan. Bila gejala kecemasan hanya sedikit (40-50%)


b. Kecemasan Sedang
Pada ringkat ini individu lebih menfokuskan hal penting saat ini dan mengesampingkan yang lain sehingga mempersempit lahan persepsinya. Bila gejala kecemasan ada sebagian (51-75%)
c. Kecemasan Berat
Pada tingkat ini lahan individu sangat menurun dan cendrung memusatkan perhatian pada hal-hal lain, semua perilaku ditunjukan untuk mengurangi kecemasan, individu tersebut mencoba memusatkan perhatian pada lahan lain dan memerlukan banyak pengarahan. Bila semua gejala kecemasan ada (76-100%)
d. Panik
Keadaan ini mengancam pengendalian diri, individu tidak mampu untuk melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. Panik melibatkan disorganisasi keperibadian yang ditandai dengan meningkatnya kegiatan motorik, menurunnya respon untuk berhubungan dengan orang lain, distory persepsi dan kehilangan pikiran yang rasional. Tingkah laku panik ini tidak mendukung kehidupan individu tersebut.


2.2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecemasan
a. Faktor-faktor kultural merupakan faktor yang tidak dapat di abaikan.
b. Nilai-nilai moral
c. Ketentuan pendidikan dan agama
d. Ketentuan hukum, Tingkatkan individu tersebut dalam menanggapi batasan-batasan sosiokulturil tersebut

2.2.5 Bentuk-Bentuk Kecemasan
Menurut Bucklew (1980), para ahli membagi bentuk kecemasan itu dalam dua tingkat, yaitu:
a. Tingkat Psikologis.
Kecemasan yang berwujud sebagai gejala-gejala kejiwaan, seperti tegang, bingung, khawatir, perasaan tidak menentu dan sebagainya.
b. Tingkat Fisiologis.
Kecemasan yang sudah mempengaruhi atau terwujud pada gejala-gejala fisik, terutama pada fungsi sistem syaraf, misalnya tidak dapat tidur, jantung berdebar-debar, gemetar, perut mual, dan sebagainya.

2.2.6 Ciri-Ciri Kecemasan
Simptom-simptom somatis yang dapat menunjukkan ciri-ciri kecemasan menurut Stern (1964) adalah muntah-muntah, diare, denyut jantung yang bertambah keras, seringkali buang air, nafas sesak disertai tremor pada otot. Kartono (1981) menyebutkan bahwa kecemasan ditandai dengan emosi yang tidak stabil, sangat mudah tersinggung dan marah, sering dalam keadaan excited atau gempar gelisah.


2.2.7 Tanda-Tanda Kecemasan
Menurut Sue, dkk (dalam Kartikasari, 1995) menyebutkan bahwa manifestasi kecemasan terwujud dalam empat hal berikut ini :
a. Manifestasi kognitif, yang terwujud dalam pikiran seseorang, seringkali memikirkan tentang malapetaka atau kejadian buruk yang akan terjadi.
b. Perilaku motorik, kecemasan seseorang terwujud dalam gerakan tidak menentu seperti gemetar.
c. Perubahan somatik, muncul dalam keadaaan mulut kering, tangan dan kaki dingin, diare, sering kencing, ketegangan otot, peningkatan tekanan darah dan lain-lain. Hampir semua penderita kecemasan menunjukkan peningkatan detak jantung, respirasi, ketegangan otot dan tekanan darah.
d. Afektif, diwujudkan dalam perasaan gelisah, dan perasaan tegang yang berlebihan.

2.2.8 Penyebab Kecemasan (Ansietas)
Menurut Hudak dan Gallo (1997) penyebab yang paling umum dari ansietas di rumah sakit :
a. Ansietas dialami saat terdapat suatu ancaman ketidak berdayaan atau kurang pengendalian.
b. Perasaan terisolasi dapat dikurangi dengan mengajak pasien berbicara tentang pengobatan dan penyentuhannya saat keadaan yang menakutkan.
c. Timbunya stimulus ansietas termasuk hal yang mengancam keamanan individu. Penerimaan di unit perawatan kritis secara daramatid meyakinkan pasien dan keluarga bahwa keamanan meraka pada semua tingakat secara hebat terancam.
Penyebab ansietas adalah kejadian yang dapat menimbulkan ansietas. Ansietas terjadi bila ada :
a. Ancanman ketidakberdayaan
b. Kehilangan kendali
c. Perasaan kehilangan fungsi dan harga diri
d. Kegagalan membentuk pertahanan
e. Perasaan terisolasi
f. Takut mati

2.2.9 Pengukuran Skala Kecemasan
Instrumen lain yang dapat digunakan untuk mengukur skala kecemasan adalah Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Yaitu mengukur aspek kognitif dan efektif yang meliputi (Hawari, 2001) :
a. Perasaan cemas, ditandai dengan : cemasan, firasat buruk, takut akan pikiran sendiri, dan mudah tersenggung.
b. Ketegangan yang di tandai oleh : merasa tegang, lesu, tidak dapat istirahat tenang, mudah terkejut, mudah menangis, gemetar, gelisah, gelisah dan mudah terkejut.
c. Ketakutan ditandai oleh : Ketakutan pada gelap, Ketakutan ditinggal sendiri, Ketakutan pada orang asing, ketakutan pada binatang besar, ketakutan pada keramaian lalu lintas, ketakutan pada kerumunan orang banyak.
d. Gangguan tidur ditandai oleh : sukar untuk tidur, terbangun malam hari, tidur tidak nyenyak, bangun dengan lesu, mimpi-mimpi, mimpi buruk, mimpi yan menakutkan.
e. Gangguan kecerdasan ditandai oleh: sukar konsentrasi, daya ingat buruk, daya ingat menurun.
f. Perasaan depresi di tandai oleh : kehilangan minat, sedih, bangun dini hari, kurangnya kesenangan pada hoby, perasaan berubah sepanjang hari.
g. Gejala somatik ditandai oleh : nyeri pada otot, kaku, kedutan otot, gigi gemeretak, suara tidak stabil.
h. Gejala sensorik ditandai oleh : tintus, penglihatan kabur, muka merah dan pucat, merasa lemah, perasaan di tusuk-tusuk.
i. Gejala kardiovaskuler ditandai oleh : takikardia, berdebar-debar, nyeri dada, denyut nadi mengeras, rasa lemah seperti mau pingsan, detak jantung hilang sekejap.
j. Gejala pernafasan di tandai oleh : Rasa tertekan atau sempit didada, perasaan tercekik, merasa nafas pendek/sesak, sering menarik nafas panjang.
k. Gejala Gastrointestinal ditandai oleh : sulit menelan, mual, perut melilit, gangguan pencernaan, nyeri lambung sebelum atau sesudah makan, rasa panas di perut, perut terasa kembung atau penuh, muntah, defekasi lembek, berat badan menurun, dan kontipasi (sukar buang air besar)
l. Gejala Urogenital ditandai oleh : sering kencing, tidak dapat menahan kencing, amenorrhoe, amenorrhagia, masa haid berkepanjangan, masa haid amat pendek, haid beberapa kali dalam sebulan, frigiditas, ejakuasi prekok, ereksi melemah, ereksi hilang dan inpoten.
m. Gejala Otonom ditandai oleh : mulut kering, muka merah kering, mudah berkeringat, pusing, sakit kepala, kepala terasa berat, bulu-bulu berdiri.
n. Perilaku sewaktu wawancara, ditandai oleh : gelisah, tidak tenang, jari gemetar, mengerutkan dahi atau kening, muka tegang tonus otot meningkat, nafas pendek dan cepat dan muka memerah.
Salah satu pengukuran kecemasan menurut : Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS). Pernyataan-pernyataan adalah sebagai berikut :
a. Saya tidak cepat lelah, Saya sering merasa mual, Saya lebih tenang bila dibandingkan dengan orang lain, Saya jarang sakit kepala, Saya sering merasa tegang pada waktu bekerja.
b. Saya mengalami kesukaran untuk melakukan konsentrasi menanggapi suatu masalah.
c. Saya merasa risau bila memikirkan masalah-masalah keuangan dan pekerjaan.
d. Tangan saya sering terasa gemetar bila mencoba mengerjakan sesuatu.
e. Kalau terjadi sesuatu pada diri saya, saya tidak mudah tersipu-sipu seperti kebanyakan orang lain.
f. Saya mengalami mencret sekali atau lebih dalam 1 bulan.
g. Saya khawatir akan terjadi kesulitan yang menimpa diri saya.
h. Saya tidak pernah merasa tersipu-sipu bila sesuatu terjadi pada diri saya.
i. Saya merasa khawatir kalau-kalau muka saya menjadi merah karena malu.
j. Saya sering mengalami mimpi yang menakutkan pada waktu tidur malam hari.
k. Tangan dan kaki saya biasanya cukup hangat.
l. Ketika saya merasa malu, kadang-kadang keringat saya bercucuran, hal ini sangat menjengkelkan saya.
m. Saya jarang berdebar-debar maupun bernafas tersengal-sengal.
n. Saya merasa lapar hampir setiap saat, Saya jarang mengalami sakit perut.
o. Saya jarang merasa sembelit, Kadang-kadang saya tidak dapat tidur karena mengkhawatirkan sesuatu, Tidur saya sering terganggu dan tidak nyenyak.
p. Seringkali saya bermimpi tentang sesuatu yang sulit untuk diceritakan pada orang lain, Saya mudah merasa malu.
q. Saya lebih merasa sensitif (peka) daripada kebanyakan orang.
r. Saya sering mengkhawatirkan diri saya terhadap sesuatu.
s. Saya menginginkan kebahagiaan seperti orang yang saya lihat.
t. Biasanya saya bersikap tenang dan tidak mudah marah.
u. Saya mudah menangis, Saya sering mencemaskan sesuatu maupun orang lain.
v. Saya selalu merasa gembira setiap saat, Menunggu membuat saya gelisah.
w. Pada waktu-waktu tertentu saya merasa gelisah, sehingga saya tidak duduk terlalu lama, Kadang-kadang saya merasa gembira sekali, sehingga sukar untuk tidur
x. Saya sering merasa bahwa saya dihadapkan pada banyak kesulitan yang tidak dapat saya selesaikan, Saya akui, bahwa saya kadang-kadang merasa khawatir tanpa sesuatu alasan tertentu pada suatu hal yang tidak berarti.
y. Bila dibandingkan dengan teman-teman maka saya tidak seperti mereka.

2.3 Seksio Caesar
2.3.1 Pengertian Seksio Caesar
Seksio caesar adalah melahirkan janin yang sudah mampu hidup (beserta plasenta dan selaput ketuban) secara transabdominal melalui insisi uterus (Benson, 2008).
Seksio caesar adalah suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan sayatan rahim dalam keadaan utuh (Sarwono, 2007).




2.3.2 Faktor-faktor yang Menyebabkan Seksio Sesarea
a. Faktor Ibu
Menurut Cunningham (2005) dan Benson (2008), faktor-faktor yang menyebabkan seksio sesarea adalah dari faktor ibu dan janin.
Faktor Ibu yang menyebabkan seksio sesarea adalah: usia, tulang panggul, persalinan sebelumnya dengan seksio caesar, faktor hambatan jalan lahir, ruptur uteri (Cunningham,2005). Penyakit ibu yang dapat mempengaruhi seksio sesarea adalah: preeklampsi-eklampsi berat, diabetes, eritroblastosis, penyakit jantung berat pada ibu, keadaan melemahkan lainnya (Benson, 2008).

b. Faktor Janin
Faktor janin yang menyebabkan seksio caesar adalah: janin dengan anomali (Meningokel, Hidrosefalus), bayi terlalu besar (Makrosomia (>4000 gram), malposisi dan malpresentasi (presentasi bokong, defleksi kepala, letak lintang, presentasi dahi, posisi dagu posterior, presentasi bahu, presentasi majemuk), gawat janin atau fetal distress, faktor plasenta: solusio plasenta, plasenta previa, ruptur uteri, vasa previa, kelainan tali pusat (prolapsus tali pusat/tali pusat menumbung, bayi kembar (Multiple Pregnancy) (Benson, 2008).




2.3.3 Klasifikasi Seksio Caesar
a. Seksio Caesar Klasik
Sebuah pengirisan memanjang di bgian tengah yang memberikan satu ruang yang lebih besar (10-14 cm) untuk mengeluarkan bayi (Cunningham, 2005).
Teknik Seksio Caesar Klasik
1) Mula-mula dilakukan desinfeksi pada dinding perut dan lapangan operasi dipersempit dengn kain suci hama.
2) Pada dinding perut dibuat insisi mediana mulai dari atas simfisis sepanjang ±12 cm sampai dibawah umbilikus lapis demi lapis sehingga kavum peritoneal terbuka.
3) Dalam rongga perut disekitar rahim dilingkari dengan kasa laparotomi.
4) Di buat insisi secara tajam dengan pada segmen atas rahim (SAR), kemudian dierlebar secara sagital dengan gunting.
5) Setelah kavum uteri terbuka, selaput ketuban dipecahkan. Janin dilahirkan dengan meluksir kepala dan mendorong fundusuteri. Setelah janin lahir seluruhnya, tali pusat dijepit dan dipotong diantara kedua penjepit.
6) Plasenta dilahirkan secara manual disuntikkan 10 U oksitosin ke dalam rahim secara intra mural.
7) Luka insisi SAR dijahit kembali.
Lapisan I : Endometrium bersama miometrium dijahit secara jelujur dengan benang catgut khoromik.
Lapisan II : Hanya miometrium saja dijahit secara simpul.
Lapisan III : Perimetrium saja, dijahitbsecara simpul dengan benang cutgut biasa.
8) Setelah dinding rahim dijahit, kedua adneksa dieksplorasi.
9) Rongga perut dibersihkan dari isa-sisa darah dan akhirnya luka dinding perut dijahit.

b. Indikasi Seksio Caesar
Indikasi seksio Caesar klasik menurut Sarwono 2007 :
1) Bila terjadi kesukaran dalam memisahkan kandung kencing untuk mencapai segmen bawah rahim, misalnya karena adanya perlekatan –perlekatan akibat pembedahan seksio caesar yang lalu, atau adanya tumor-tumor di daerah segmen bawah rahim.
2) Janin besar dalam letak lintang.
3) Plasenta previa dengan insersi plasenta di dinding depan segmen bawah rahim.
Kelebihan:
a) Memerlukan sedikit pemisahan kandung kemih dari miometrium.
b) Keluarnya janin lebih cepat.
c) Tidak menyebabkan perlekatan usus atau omentum ke garis insisi.
d) Lebih mudah diperbaiki.

Kekurangan:
a) Lebih berisiko terkena peritonitis (radang selaput perut).
b) Memiliki risiko empat kali lebih besar terkena ruptur uteri pada kehamilan selanjutnya.
c) Otot-otot rahimnya tebal dan lebaih banyak pembuluh darah sehingga sayatan ini lebih banyak mengeluarkan darah.
d) Jika menggunakan anestesi lokal, sayatan ini akan memerlukan waktu dan obat lebih banyak (Kasdu, 2003).

c. Seksio Caesar Transperitoneal Profunda
Dilakukan dengan membuat sayatan atau irisan horizontal di bagian bawah rahim (Kasdu, 2003).
Teknik Seksio Caesar Transperitoneal Profunda
1. Mula- mula dilakukan desinfeksi pada dinding perut dan lapangan operasi dipersempit dengan kain suci hama.
2. Pada dinding perut dibuat insisi mediana mulai dari atas simfisis sampai di bawah umbilikus lapis demi lapis sehingga peritonei terbuka.
3. Dalam rongga perut disekitar rahim dilingkari dengan kasa laparotomi.
4. Dibuat bladder-flap, yaitu dengan menggunting peritoneum kandung kencing (plika vesikouterina) didepan segmen bawah rahim (SBR) secara melintang. Plika vesikouterina ini disisihkan secara tumpul ke arah samping dan bawah, dan kandung kencing yang telah disisihkan ke arah bawah dan samping dilindungi dengan spekulum kandung kencing.
5. Di buat insisi pada segmen bawah rahim 1 cm di bawah irisan plika vesikouterina tadi secara tajam dengan pisau bedah ±2 cm, kemudian diperlebar melintang secara tumpul dengan kedua jari telunjuk perator. Arah insisi pada segmen bawah rahim dapat melintang (transversa) atau membujur (sagital).
6. Setelah kavum uteri terbuka, selaput ketuban dipecahkan, janin dilahirkan dengan meluksir kepalanya. Badan janin dilahirkan dengan mengait kedua ketiaknya. Tali pusat dijepit dan dipotong, plasenta dilahirkan secara manual. Kedalam otot rahim intra mural disuntikkan 10 U oksitosin.
Luka dinding rahim dijahit
Lapisan I : Dijahit jelujur, pada endometrium da miometrium
Lapisan II : Dijahit jelujur hanya pada miometrium saja
Lapisan III : Dijahit jelujur pada plika vesikouterina
7. Setelah dinding rahim selesai dijahit, kedua adneksa diejsplorasi
8. Rongga perut dibersihkan dari sisa-sisa darah dan akhirnya luka dindina perut dijahit (Sarwono, 2007).
Kelebihan :
Penjahitan luka lebih mudah, Penutupan luka dan reperetonialisasi yang baik, Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan ruptur uteri spontan kurang atau lebih kecil.
Kekurangan :
Luka dapat melebar kekiri, kanan bawah, Uterin putus sehingga mengakibatkan perdarahan yang banyak,Keluhan kandung kemih.

2.4 Penelitian Terkait
Menurut penelitian Eka Fitrianti 2008, Di peroleh data mengenai gambaran peran perawat pelaksana dalam menerapkan teknik komunikasi terapeutik pada teknik menyimpulkan pada pasien gangguan jiwa diruang rawat inap Rumah Sakit Dr. Ernaldi Bahar Propinsi Sumatra Selatan tahun 2008.Untuk kategori baik sebanyak 47,62% dan kategori kurang sebanyak 52,38%. Penelitian ini dapat digambarkan bahwa peran perawat pelaksana komunikasi terapeutik pada teknik menyimpulkan tergolong kurang.
Dari hasil penelitian Rosalina 2008, Mengenai penerapan komunikasi terapeutik pada pasien DM Di Irna Non Bedah Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang, yang dilakukan pada keseluruhan responden didapatkan bahwa dari 34 responden yang melakukan komunikasi terapeutik pada fase kerja dengan baik yaitu 20 orang ( 58,8% ), Kategori cukup 9 orang ( 26,5% ) sedangkan kategori kurang yaitu sebanyak 5 orang ( 14,7% ). Pada fase ini 14,7% masih dalam kategori kurang dimana responden tidak menjelaskan tindakan keperawatan yang dilakukan seharusnya perawat menjelaskan tindakan keperawatan yang dilakukan agar tidak menimbulkan kecemasan pada pasien dengan demikian komunikasi terapeutik pada fase kerja tidak ada lagi dalam katogori kurang.
Menurut penelitian Tri Setiani 2009, dari hasil penelitian di instalasi kebidanan dan penyakit kandungan Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang terdapat 30 responden didapat data bahwa pengetahuan ibu bersalin dengan SC tentang perawatan bekas sayatan SC dengan kategori baik sebanyak 16 responden (53%), Kategori cukup 8 responden (27%) dan 6 responden (20%) dikategorikan kurang.












BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL


3.1 Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya dari masalah yang ingin diteliti, konsep adalah suatu abstraksi yang dibentuk dengan menggeneralisasikan suatu pengertian oleh karena itu konsep tidak dapat diamati dan dapat diukur, maka konsep tersebut harus dijabarkan kedalam variabel-variabel, dari variabel itulah konsep dapat diamati dan diukur (Notoatmodjo, 2005).
Tingkat kecemasan merupakan salah satu tolak ukur yang digunakan untuk mengukur kecemasan pada pasien pre operasi seksio sesarea. Komunikasi terapeutik merupakan suatu hubungan atau interaksi antara perawat dengan pasien. Berdasarkan hal tersebut maka kerangka konsep penelitian hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar adalah sebagai berikut:





Variabel Dependen Variabel Independen













Keterangan :
: Yang diteliti
: Tidak diteliti
Sumber : Menurut teori Lawrence Green (Dalam Notoatmodjo Soekidjo, 2007)




3.2 Definisi Operasional
No Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala
1 Operasi seksio caesar Merupakan salah satu cara melahirkan janin melalui insisi pada dinding perut dan dinding uterus Observasi Cheklist 1. Persalinan SC
2. Persalinan normal / spontan Nominal
2 Komunikasi terapeutik perawat





Komunikasi yang dilakukan oleh perawat dengan pasien yang meliputi dari fase prainteraksi, orientasi, kerja, dan terminasi. Wawancara Kuiesioner 1. Baik jika yang menjawab benar > 75 % dari pertayaan yang diajukan
2. Cukup jika yang menjawab benar antara 60-75% dari pertayaan yang diajukan
3. Kurang jika yang menjawab benar < 60 % dari pertayaan yang diajukan
( Arikunto, 2006 ) Ordinal
3 Tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio caesar Merupakan tingkat kecemasan yang dialami oleh pasien pre operasi SC yang diukur dengan cara Anxiety Scale Observasi Checklist 1. Ringan jika nilainya ( < 50 %)
2. Sedang jika nilainya (50-75 %)
3. Berat jika nilainya (> 75 %)
(Struat & Sunden, 1989) Ordinal

3.3 Hipotesis
Ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat/bidan dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.









BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

4.1. Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian yang bersifat hubungan analitik menggunakan tehnik cross sektional. Penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010.

4.2. Populasi dan Sampel Penelitian
4.2.1. Populasi Penelitian
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo, 2005). Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien pre operasi seksio caesar dan perawat/bidan di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.

4.2.2. Sampel Penelitian
Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmojo, 2005). Sampel dalam penelitian ini menggunakan metode accidental yaitu sampel yang diambil dari responden atau kasus yang kebetulan ada atau tersedia.

4.3. Tempat dan Waktu Penelitian
4.3.1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan Diruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010.

4.3.2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan serangkaian kegiatan yang dilaksanakan dengan perencanaan waktu sebagai barikut :
Tabel 4.1
Perencanaan Waktu Penelitian

Kegiatan Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli
1. Pengajuan judul √
2. Pembahasan bab I-IV √ √
3. Persiapan seminar proposal √
4. Seminar proposal √
5. Penelitian √ √
6. Pembahasan bab V-VI √ √
7. Persiapan komprehensif √
8. Komprehensif √
9. Ujian √




4.4. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
4.4.1. Tehnik Pengumpulan Data
Pada penelitian ini data yang diperoleh adalah data primer yaitu Data primer berupa angket yang dibagikan kepada responden dengan cara menggunakan kuesioner yang dikembangkan sendiri oleh penulis (Notoatmojo, 2003). Penelitian langsung mengambil data pada subyek penelitian langsung pada nilai operasi, Pengumpulan data dilakukan sendiri oleh penulis dengan cara melakukan pengamatan (observasi) secara langsung kepada responden dengan menggunakan observasi atau cheklist yang dikembangkan sendiri oleh peneliti dan wawancara langsung dengan pasien dengan menggunakan kuesioner yang dikembangkan sendiri oleh peneliti. Dan data sekunder diperoleh dari Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang yang berupa data yang diambil dari Medical Record.

4.4.2. Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah Wawancara (Kuesioner) dan observasi (Check List).





4.5. Pengolahan Data
Menurut Hastono (2001) pengolahan data dapat jelaskan sebagai berikut :
4.5.1. Coding ( Pengkodean )
Dalam melakukan pengolahan data dengan baik, data tersebut perlu diperiksa terlebih dahulu apakah telah sesuai dengan yang diharapkan atau tidak.
4.5.2. Editing ( Pegolahan Data )
Klasifikasikan jawaban / hasil yang ada menurut macamnya ke bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode.
4.5.3. Entry Data ( Memasukan Data )
Memasukan hasil data penelitian ke dalam tabel sesuai dengan kriteria.
4.5.4. Cleaning Data ( Pembersihan Data )
Pemeriksaan kembali data yang telah dimasukan sehingga benar – benar bebas dari kesalahan kemudian diuji kebenarannya.
Rumus pengolahan data bila respon :
a. Baik jika yang menjawab benar > 75 % dari pertayaan yang diajukan
b. Cukup jika yang menjawab benar antara 60 - 75% dari pertayaan yang diajukan
c. Kurang jika yang menjawab benar < 60 % dari pertayaan yang diajukan
Jika responden menjawab ”Ya” nilainya 1, jika responden menjawab ”Tidak ” nilainya 0. maka setiap kuisioner nilainya dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

R = n x 100 %
N
Keterangan :
R : Indeks kesesuaian prilaku
n : Jumlah responden yang menjawab ”Ya”
N : Jumlah pertayaan

4.6. Analisa Data
4.6.1. Analisa Univariat
Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah univariat terhadap tiap variabel dari hasil penelitian dalam hal ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase dari tiap variabel.
4.6.2. Analisa Bivariat
Analisa bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara dua variabel independen yang meliputi : Tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar dengan variabel dependen : Komunikasi terapeutik perawat. Dalam hal ini untuk melihat hubungan antara dua variabel independen dan dependen digunakan uji Chi square (SPSS).

4.7. Etika Penelitian
Dalam melakukan penelitian, peneliti perlu membawa rekomendasi dari Institusi dari pihak lain dengan cara mengajukan permohonan izin pada Instiusi/Lembaga penelitian yang dituju oleh peneliti. Setelah mendapat persetujuan barulah penelitian menekankan masalah etika yang meliputi:
a. Informend Consent
Lembar persetujuan ini diberikan pada responden yang akan diteliti. Responden harus memenuhi kriteria inklusi. Lembar informend consed harus dilengkapi dengan judul penelitian dan manfaat penelitian. Bila subjek menolak, maka peneliti tidak boleh memaksa dan harus tetap menghormati hak-hak subjek.
b. Anonimity (Tanpa Nama)
Untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak akan mencantumkan nama responden, tetapi pada lembar tersebut diberiakan kode.
c. Confidentiality (Kerahasiaan)
Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti, dan hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian.
¬¬









BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Gambaran Rumah Sakit
Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang adalah Amal Usaha Persyarikatan Muhammadiyah yang diresmikan tanggal 10 Dzulhijjah 1417 H/ 18 April 1997 oleh Gubernur Propinsi Sumatera Selatan (Bapak H. Ramli Hasan Basri) bersama Ketua PP Muhammadiyah (Bapak Prof. DR. Amien Rais) merupakan satu satunya amal usaha dibawah langsung PWM SumSel. Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang telah berkembang cukup pesat dan berkat ridho Allah SWT dan dukungan masyarakat rumah sakit ini sudah sama dengan rumah sakit lainnya di kota Palembang. Insya Allah Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang akan selalu memupuk dan memelihara kepercayaan masyarakat melalui dipenuhinya dokter-dokter spesialis, dokter umum, Paramedis (Perawat, Bidan) dan karyawan yang terampil dan berkemampuan dengan didukung oleh peralatan-peralatan canggih, ruangan yang bersih, pelayanan yang cepat, ramah, simpatik, mengesankan dan bernuansa islami.
Pada saat ini Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang lebih menggembirakan jika dilihat dari berbegai sektor, baik pelayanan, peralatan medis, peralatan non medis dan peralatan penunjang lainnya.


5.1.1 Visi, Misi, dan Motto
a) Visi
Terwujudnya Rumah Sakit yang profesional, modern, terkemuka, dan islami sehingga menjadi rahmatan lil’alamin bagi masyarakat.
b) Misi
1. Memberikan pelayanan kesehatan secara profesional, modern, dan islami kepada masyarakat.
2. Mewujudkan citra sebagai Rumah Sakit islam kebanggaan Muhammadiyah yang berfungsi sebagai wahana ibadah dan berperan aktif sebagai media dakwah persyarikatan dalam bidang kesehatan.
3. Menjadi pusat persemaian kader Muhammadiyah dalam bidang kesehatan.
c) Motto
” Pelayanan sebagai Ibadah dan Dakwah”.

5.1.2 Fasilitas Pelayanan
a. Kebidanan dan Kandungan
b. Syaraf
c. Penyakit Dalam
d. Paru
e. Anak
f. Jantung
g. THT
h. Bedah
i. ICCU /ICU, IGD, Mata.

5.1.3 Tempat Tidur
Tabel 5.1
Jumlah Tempat Tidur Rumah Sakit Muhammadiyah
Palembang 2010

RUANG Kelas TT Tidur
VIP Khusus VIP Utama I A I B II A II B IIIA III B
Bedah - - - - 8 10 - 24 42
P D L - - - 4 4 11 11 62 92
Kebidanan - - - - - 6 8 16 30
Anak - - - - - 6 16 10 32
VIP Atas 1 6 - - - - - - 7
VIP Bawah 2 - 2 10 - - - - 14
ICU/ ICCU 10 - - - - - - - 10
Total TT 3 6 2 14 12 33 35 112 227

5.1.4 Pelayanan Penunjang / Tindakan Medis
a. Instalasi Farmasi
b. 6 Konsultasi Gizi
c. Kamar Operasi
d. Echo
e. Laboratorium
f. Treadmil
g. Radiologi
h. USG/ECG
i. Fisioterapi
j. Ambulance

5.2 Variabel Penelitian
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan pada tanggal 22 Februari sampai 8 Maret tahun 2010, didapatkan dari 14 responden pada perawat dan pasien pre operasi seksio caesar yang dilakukan di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.

5.2.1 Analisa Univariat
Analisa ini yang digambarkan dalam bentuk distribusi frekuensi dari variabel komunikasi terapeutik perawat dan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. Daftar ditampilkan dalam bentuk tabel dan teks.













a) Persalinan
Pada penelitian ini persalinan dikelompokan menjadi 2 kategori persalianan spontan dan persalinan operasi seksio caesar berdasarkan medical record Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dari bulan Nopember 2009 sampai dengan Maret 2010 untuk lebih jelas lihat tabel 5.2
Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Persalinan Spontan Dan Seksio Caesar di
Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010

No Bulan Persalinan
Seksio Caesar % Spontan %
1 Nopember 116 25 76 19
2 Desember 106 23 89 23
3 Januari 85 19 67 17
4 Februari 73 16 65 17
5 Maret 75 16 92 24
Total 455 100 389 100

Dari data diatas bahwa dari 844 persalinan yang bulan Nopember seksio caesar 116 pasien (25%) spontan 76 (20%), Desember seksio caesar 106 pasien (23%) spontan 89 (23%), Januari seksio caesar 85 pasien (19%) spontan 67 (17%), Februari seksio caesar 73 pasien (16%) spontan 65 (17%), dan bulan Maret seksio caesar 75 pasien (16%) spontan 92 (24%).



b) Komunikasi Terapeutik Perawat
Pada penelitian ini komunikasi terapeutik perawat dikelompokan menjadi 3 kategori komunikasi terapeutik baik > 75%, cukup 60%-75%, dan kurang < 60% untuk lebih jelas lihat tabel 5.3
Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi Komunikasi Terapeutik Perawat di
Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010

No Komunikasi Terapeutik Perawat N %
1 Baik 5 36
2 Cukup 9 64
Jumlah 14 100

Dari data di atas bahwa dari 14 perawat yang komunikasi terapeutik baik 5 perawat (36 %), cukup 9 perawat (64%).



















c) Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar
Pada penelitian ini tingkat kecemasan dikategorikan menjadi menjadi 3 yaitu ringan 40% - 50%, sedang 51% - 65%, dan berat 66% -100 %, untuk lebih jelas lihat tabel 54.
Tabel 5.4
Distribusi Frekuensi Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010

No Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar N %
1 Ringan 8 57
2 Sedang 6 43
Jumlah 14 100

Dari data di atas bahwa dari 14 pasien seksio caesar yang tingkat kecemasan ringan sebanyak 8 pasien (57%), sedang sebanyak 6 pasien (43%).

5.2.2 Analisa Bivariat
Analisa ini untuk mengetahui hubungan antara variabel independent (komunikasi terapeutik perawat) dengan variabel dependent (tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar) dengan uji statistik yang menggunakan uji Chi-Square.





a) Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar
Komunikasi terapeutik dengan tingkat kecemasan pasien dikategorikan menjadi 2 dengan jumlah responden 14, hasil uji Chi-Square lihat tabel 5.5
Tabel 5.5
Distribusi Frekuensi Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010

No Komunikasi Terpeutik Perawat Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi SC Jumlah Value
Ringan Sedang
N % N % N %
1 Baik 5 36 0 0 5 36  = 0.031
2 Cukup 3 21 6 43 9 64
Total 8 57 6 43 14 100

Dari data diatas dapat diketahui bahwa perawat dengan komunikasi terapeutik yang baik didapatkan tingkat kecemasan kategori ringan (36%) dari pada perawat dengan komunikasi terapeutik yang cukup didapatkan tingkat kecemasan kategori ringan (21%) dan sedang (43%).
Dari uji statistik diperoleh pValue = 0,031 setelah dibandingkan dengan α 0,05 dapat diketahui bahwa pValue = 0,031 ≤ 0,05, maka dapat diketahui bahwa ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.


5.3 Pembahasan
Pembahasan ádalah suatu penelitian untuk membandingkan hasil penelitian di lapangan dengan teori yang mendukung. Pada penelitian ini sampel di ambil secara accicidental sample, Sehingga sampel yang didapatkan adalah pasien pre operasi seksio caesar yang ada di ruangan kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. Untuk variabel mempengaruhi seperti perawat yang merawat pasien operasi seksio caesar tersebut yang ada diruang tempat pasien dirawat. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, Maka akan diuraikan satu persatu oleh penulis di bawah ini :

5.3.1 Persalinan
Dari hasil penelitian di ruang kebidanan rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dapat dilihat bahwa dari bulan Nopember sampai Maret yaitu persalinan SC sebanyak 455 pasien dan persalinan spontan sebanyak 389 pasien Maka angka persalinan SC meningkat dan persalinan spontan terjadi penurunan di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammdiyah Palembang tahun 2010.
Seksio caesar adalah suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan sayatan rahim dalam keadaan utuh (Sarwono, 2007). Menurut Cunningham (2005) dan Benson (2008), faktor-faktor yang menyebabkan seksio sesarea adalah dari faktor ibu dan janin. Faktor Ibu yang menyebabkan seksio sesarea adalah: usia, tulang panggul, persalinan sebelumnya dengan seksio caesar, faktor hambatan jalan lahir, ruptur uteri (Cunningham,2005). Penyakit ibu yang dapat mempengaruhi seksio sesarea adalah: preeklampsi-eklampsi berat, diabetes, eritroblastosis, penyakit jantung berat pada ibu, keadaan melemahkan lainnya. Faktor janin yang menyebabkan seksio caesar adalah: janin dengan anomali, bayi terlalu besar (>4000 gram), presentasi bokong, defleksi kepala, letak lintang, presentasi dahi, posisi dagu posterior, presentasi bahu, presentasi majemuk), gawat janin atau fetal distress, solusio plasenta, plasenta previa, ruptur uteri, vasa previa, kelainan tali pusat, bayi kembar (Multiple Pregnancy) (Benson, 2008).
Dari hasil Tri Setiani dari 30 responden didapat data bahwa pengetahuan ibu bersalin dengan SC tentang perawatan bekas sayatan SC dengan kategori baik sebanyak 16 responden (53%), Kategori cukup 8 responden (27%) dan 6 responden (20%) dikategorikan kurang.
Dari hasil penelitian yang didapatkan dan dari teori yang mendukung, menunjukan bahwa kejadian persalinan seksio caesar mengalami peningkatan dikarnakan adanya faktor-faktor yang membahayakan ibu dan bayi, sehingga dilakukan operasi seksio caesar yang membantu persalinan bukan karena suatu Trens. Operasi merupakan salah satu tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan. Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak segera diatasi maka dapat mengganggu proses penyembuhan, untuk itu pasien yang akan menjalani operasi harus diberi komunikasi terapeutik untuk menurunkan atau mengurangi gejala kecemasan serta dapat meningkatkan pengetahuan kesehatan pada pasien.

5.3.2 Komunikasi Terapeutik Perawat
Dari hasil penelitian di rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dapat dilihat bahwa dari 14 perawat komunikasi terapeutik kategori cukup (64%). Berarti komunikasi terapeutik perawat masih cukup di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan dan dilakukan untuk membantu penyembuhan dan pemulihan pasien. Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional bagi perawat bertujuan untuk kesembuhan pasien. ( Mukhripah Damaiyanti, 2008 ).
Didalam komunikasi terapeutik perawat ada empat fase yaitu fase preinteraksi (persiapan) Pada tahap ini perawat menggali perasaan dan mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya. Pada tahap ini perawat juga mencari informasi tentang klien fase orientasi (perkenalaan) Pada saat berkenalan, perawat harus memperkenalkan dirinya terlebih dahulu kepada klien. Fase kerja pada tahap kerja ini dituntut kemampuan perawat dalam mendorong klien mengungkap perasaan dan pikirannya. Perawat juga dituntut untuk mempunyai kepekaan dan tingkat analisis yang tinggi terhadap adanya perubahan dalam respons verbal maupun nonverbal klien. Fase terminasi akhir dari pertemuan perawat dengan klien.
Hasil penelitian yang di peroleh data mengenai gambaran peran perawat pelaksana dalam menerapkan teknik komunikasi terapeutik pada teknik menyimpulkan pada pasien gangguan jiwa diruang rawat inap Rumah Sakit Dr. Ernaldi Bahar Propinsi Sumatra Selatan tahun 2008. Untuk kategori baik sebanyak 47,62% dan kategori kurang sebanyak 52,38%. Penelitian ini dapat digambarkan bahwa peran perawat pelaksana komunikasi terapeutik pada teknik menyimpulkan tergolong kurang.
Dari hasil penelitian yang didapatkan dan dari teori yang mendukung, menunjukan bahwa komunikasi terapeutik perawat masih banyak yang belum berkomunikasi terapeutik yang baik. Dikarenakan perawat kurang mencari informasi tentang klien dan perawat tidak memperkenalkan dirinya terlebih dahulu serta pada saat melakukan tindakan operasi perawat tidak menjelaskan prosedur tindakan operasi pada pasien yang akan menjalankan operasi. karena perawat tidak mempunyai waktu yang lama. Oleh sebab itu untuk mengurangi kecemasan pada pasien yang akan menjalankan operasi seksio caesar dibutuhkan komunikasi terapeutik yang baik.









5.3.3 Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar
Dari hasil penelitian di rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dapat dilihat bahwa dari 14 pasien tingkat kecemasan yang kategori berat (43%). Berarti tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio caesar masih berat di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.
Kecemasan (ansietas) adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktivitas sistem syaraf autonom dalam berespon terhadap ancaman yang tidak jelas, ninspesifik (Carpenito, 2000). Respon emosional terhadap penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya (Stuart Dan Sundeen, 1998).

MASUKKAN PENELITIAN YANG TERKAIT TENTANG KECEMASAN ”?

Dari hasil penelitian yang didapatkan dan dari teori yang mendukung, menunjukan bahwa tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio caesar masih mengalami kecemasan dikarenakan lingkungan yang bising dan kurang nyaman, kurangnya dukungan keluarga hal ini suami serta kurangnya pendekatan dan komunikasi terapeutik perawat. Dan perawat mengatahui bahwa menurunkan suatu kecemasan pasien perlu suatu metode yang baik yaitu komunikasi yang terapeutik sehingga pasien dapat merasakan rasa nyaman dalam menghadapi operasi yang akan dilakukan oleh klien. Oleh sebab itu perawat dapat membagi waktu untuk memberikan informasi dan dapat meningkatkan pengetahuan pasien terutama untuk mengurangi kecemasan psien itu sendiri. Karena dengan banyaknya pengetahuan dan penjelasan dalam suatu masalah dapat meringankan kecemasan terhadap pasien tersebut. Untuk perawat harus melakukan komunikasi terapeutik, karena dengan komunikasi terapeutik dapat mengurangi kecemasan terhadap pasien tersebut dan membuat pasien merasa lebih baik dan operasi bisa berjalan dengan lancar.















5.3.4 Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar
Dari hasil penelitian di rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dapat dilihat bahwa komunikasi terapeutik perawat di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang tergolong dalam kategori cukup dan pasien pre operasi seksio caesar mengalami kecemasan sedang sebanyak 8 pasien (56%) dari hasil uji statistik menunjukkan bahwa pValue 0.016 ≤ 0,05, berarti ada hubungan komunikasi teraputik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.
Menurut Northouse (1998) Komunikasi terapeutik adalah kemampuan atau keterampilan perawat untuk membantu pasien beradaptasi terhadap stres, mengatasi gangguan psikologis, dan belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain. (Arwani, 2003)
Menurut Yadi (2001) kecemasan adalah suatu perasaan yang tidak nyaman yang disertai dengan rasa takut yang mengancam dan perasaan tidak nyaman terhadap sesuatu. Kecemasan juga merupakan sesuatu hal yang tidak jelas, adanya perasaan gelisah atau tidak tenang dengan sumber yang tidak spesifik dan tidak diketahui oleh seseorang. Untuk dapat menurunkan kecemasan pada pasien pre operasi salah satunya diperlukan komunikasi yang efektif terutama komunikasi terapeutik. Hal ini perlu mendapat perhatian serius dari perawat karena perawat merupakan petugas kesehatan yang terdekat dan terlama dengan pasien. (Dewi Wijayanti, 2009) Hasil penelitian Supono (2005) mengatakan bahwa tingkat kecemasan pasien persalinan dapat berkurang dengan adanya komunikasi terapeutik perawat.
Dari hasil penelitian yang didapatkan dan dari teori yang mendukung, menunjukan bahwa komunikasi terapeutik perawat dapat mempengaruhi serta menurunkan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar karena salah satu untuk menurunkan kecemasan dengan cara komunikasi yang efeksif yaitu komunikasi terapeutik yang baik oleh perawat. Karena komunikasi tersebut sangat dibutuhkan oleh pasien yang akan menjalankan operasi, maka pasien yang akan menjalankan operasi akan timbul kecemasan dalam dirinya, perawatlah yang berperan penting dalam meningkatkan pengetahuan pasien terutama menjelaskan tentang prosedur tindakan operasi maka perawatlah yang harus melakukan komunikasi terapeutik dengan pasien pre operasi seksio caesar. Karena perawat tenaga kesehatan yang dekat dengan pasien dan memberikan rasa nyaman pada pasien yang akan menjalankan operasi seksio caesar.





BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan
Setelah dilakukan penelitian terhadap 14 responden di ruangan Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 22 Februari sampai 6 Maret tahun 2010 dapat disimpulkan bahwa :
7.1.1 Komunikasi terapeutik perawat dirumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 didapatkan sebagian besar dengan kategori cukup.
7.1.2 Tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 didapatkan sebagian besar dengan kategori ringan.
7.1.3 Ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. Dari hasil uji Chi-Square, didapatkan pValue = 0, 031.


7.2 Saran
7.2.1 Manfaat Bagi Rumah Sakit
Dapat dijadikan masukan dan motivasi bagi rumah sakit untuk lebih meningkatkan komunikasi terapeutik perawat dalam mengurangi tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.

7.2.2 Manfaat Bagi Institusi Pendidikan
Dapat menambah informasi dan referensi yang berguna bagi mahasiswa sekolah tinggi ilmu kesehatan Muhammadiyah Palembang.

7.2.3 Manfaat Bagi Pasien
Dapat memberikan rasa nyaman dan aman pada semua pasien yang akan menjalankan operasi seksio caesar sehingga pasien yang menjalankan operasi tidak cemas dan operasi bisa berjalan dengan lancar.

7.2.4 Manfaat Bagi Peneliti
Dapat menambah ilmu pengetahuan maternitas serta riset penelitian dan wawasan bagi peneliti mengenai hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.

Kamis, 10 Juni 2010

patens ductus

PATENT DUCTUS ARTERIOSUS (PDA)
1. DEFINISI
Patent Ductus Arteriosus (PDA) adalah duktus arteriosus yang tetap terbuka setelah bayi lahir. Kelainan ini merupakan 7% dari seluruh penyakit jantung bawaan. Sering dijumpai pada bayi prematur, insidennya bertambah dengan berkurangnya masa gestasi ( Betz & Sowden. 2002 : 375 )
Patent Ductus Arteriosus (PDA) atau Duktus Arteriosus Paten (DAP) adalah kelainan jantung kongenital ( bawaan ) dimana tidak terdapat penutupan ( patensi ) duktus arteriosus yang menghubungkan aorta dan pembuluh darah besar pulmonal setelah 2 bulan pasca kelahiran bayi ( www.google.com )
Patent Duktus Arteriosus adalah kegagalan menutupnya ductus arteriosus (arteri yang menghubungkan aorta dan arteri pulmonal) pada minggu pertama kehidupan, yang menyebabkan mengalirnya darah dari aorta yang bertekanan tinggi ke arteri pulmonal yang bertekanan rendah. ( Suriadi, Rita Yuliani. 2001; 235 )


2. ETIOLOGI
Penyebab terjadinya penyakit jantung bawaan belum dapat diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian penyakit jantung bawaan :
1. Faktor Prenatal :
• Ibu menderita penyakit infeksi : Rubella.
• Ibu alkoholisme.
• Umur ibu lebih dari 40 tahun.
• Ibu menderita penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang memerlukan insulin.
• Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu.
2. Faktor Genetik :
 Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan.
 Ayah / Ibu menderita penyakit jantung bawaan.
 Kelainan kromosom seperti Sindrom Down.
 Lahir dengan kelainan bawaan yang lain.

3. PATOFISIOLOGI
Duktus arteriosus adalah pembuluh darah yang menghubungkan aliran darah pulmonal ke aliran darah sistemik dalam masa kehamilan ( fetus ). Hubungan ini ( shunt ) ini diperlukan oleh karena sistem respirasi fetus yang belum bekerja di dalam masa kehamilan tersebut. Aliran darah balik fetus akan bercampur dengan aliran darah bersih dari ibu ( melalui vena umbilikalis ) kemudian masuk ke dalam atrium kanan dan kemudian dipompa oleh ventrikel kanan kembali ke aliran sistemik melalui duktus arteriosus. Normalnya duktus arteriosus berasal dari arteri pulmonalis utama (arteri pulmonalis kiri) dan berakhir pada bagian superior dari aorta desendens, ± 2-10 mm distal dari percabangan arteri subklavia kiri.
Dinding duktus arteriosus terutama terdiri dari lapisan otot polos ( tunika media ) yang tersusun spiral. Diantara sel-sel otot polos terdapat serat-serat elastin yang membentuk lapisan yang berfragmen, berbeda dengan aorta yang memiliki lapisan elastin yang tebal dan tersusun rapat ( unfragmented ). Sel-sel otot polos pada duktus arteriosus sensitif terhadap mediator vasodilator prostaglandin dan vasokonstriktor (pO2). Setelah persalinan terjadi perubahan sirkulasi dan fisiologis yang dimulai segera setelah eliminasi plasenta dari neonatus. Adanya perubahan tekanan, sirkulasi dan meningkatnya pO2 akan menyebabkan penutupan spontan duktus arteriosus dalam waktu 2 minggu. Duktus arteriosus yang persisten (PDA) akan mengakibatkan pirai (shunt) L-R yang kemudian dapat menyebabkan hipertensi pulmonal dan sianosis. Besarnya pirai (shunt) ditentukan oleh diameter, panjang PDA serta tahanan vaskuler paru (PVR).

4. MANIFESTASI KLINIK
1. Tidak menimbulkan gejala bila PDA kecil. Tanda-tanda CHF muncul pada PDA besar.
2. Murmur kontinyu (machinery) derajat 1 sampai 4/6 terdengar dengan jelas pada ULSB atau daerah infraklavikula kiri yang merupakan petanda khas kelainan ini. Rumble apikal terdengar pada PDA besar.
3. Pulsasi nadi perifer yang lemah dan lebar
4. CHF dan infeksi paru berulang seringkali terjadi pada PDA besar.
5. Penutupan spontan PDA tidak akan terjadi pada bayi aterm.
6. Akan terjadi hipertensi pulmonal dan PVOD bila PDA dibiarkan tanpa tindakan penutupan.
7. Sianosis yang terjadi pada PDA dengan PVOD dikenal sebagai sianosis diferensial oleh karena hanya ekstremitas bawah yang biru sedangkan ekstremitas atas tetap normal.

5. KOMPLIKASI
a. Endokarditis
b. Obstruksi pembuluh darah pulmonal
c. CHF ( gagal jantung kongestif )
d. Hepatomegali (jarang terjadi pada bayi prematur)
e. Enterokolitis nekrosis
f. Gangguan paru yang terjadi bersamaan (misalnya sindrom gawat nafas atau displasia bronkkopulmoner)
g. Perdarahan gastrointestinal (GI), penurunan jumlah trombosit
h. Hiperkalemia (penurunan keluaran urin).
i. Aritmia
j. Gagal tumbuh

6. PENATALAKSANAAN MEDIS
a. Penatalaksanaan Konservatif : Restriksi cairan dan Pemberian obat-obatan : Furosemid (lasix) diberikan bersama restriksi cairan untuk meningkatkan diuresis dan mengurangi efek kelebihan beban kardiovaskular, Pemberian indomethacin (inhibitor prostaglandin) untuk mempermudah penutupan duktus, pemberian antibiotik profilaktik untuk mencegah endokarditis bakterial.
b. Pembedahan : Pemotongan atau pengikatan duktus.
c. Non pembedahan : Penutupan dengan alat penutup dilakukan pada waktu kateterisasi jantung.

7. PEMERIKSAAN
a. EKG serupa dengan kelainan VSD. Pada PDA kecil-sedang dapat terjadi LVH atau normal. CVH bila PDA besar. Atau RVH bila telah terjadi PVOD. bervariasi sesuai tingkat keparahan, pada PDA kecil tidak ada abnormalitas, hipertrofi ventrikel kiri pada PDA yang lebih besar.
b. Foto toraks juga menyerupai kelainan VSD. Pada PDA kecil bayangan jantung normal. PDA sedang-besar terjadi kardiomegali dan peningkatan PVM. Adanya PVOD akan mengakibatkan ukuran jantung normal dengan pembesaran MPA dan peningkatan corakan vaskulerisasi hilus.
c. Melalui pemeriksaan ekho 2-D dan Doppler dapat divisualisasi adanya PDA dan besarnya shunt. Pemeriksaan angiografi biasanya tidak dibutuhkan kecuali bila terdapat kecurigaan PVOD.
d. Ekhokardiografi yaitu rasio atrium kiri tehadap pangkal aorta lebih dari 1,3:1 pada bayi cukup bulan atau lebih dari 1,0 pada bayi praterm (disebabkan oleh peningkatan volume atrium kiri sebagai akibat dari pirau kiri ke kanan)
e. Kateterisasi jantung yaitu hanya dilakukan untuk mengevaluasi lebih jauh hasil ECHO atau Doppler yang meragukan atau bila ada kecurigaan defek tambahan lainnya.